Minggu, 06 September 2009

Semana Santa, Jumat Agung ala Larantuka

01 April 2007



Posting ini saya ambil dari om Lambertus hurek, alasannya agar anak-anak nagi yang belum pernah bale nagi bisa membaca dan mengetahui perkembangan torang pung tempat.
Jelek-jelek begini, saya pernah jadi petugas liturgi (misdinar) dan lektor di Gereja Katedral Larantuka, Flores Timur, saat masih duduk di SMPK San Pankratio. Jadi, sedikit banyak saya tahu tradisi dan DEVOSI umat Katolik di ibukota Kabupaten Flores Timur itu.

Terus terang saja, devosi di Larantuka ini sulit ditandingi umat Katolik di mana pun di Indonesia. Bahkan, dunia. Maklum, Larantuka merupakan kota tua yang dibina Portugis sejak abad ke-16. Dus, tradisi Katolik bertahan sangat kuat di Larantuka. Nah, di masa Prapaskah selama 40 hari ini, saya terkenang tradisi JALAN SALIB ala Larantuka. Namanya SEMANA SANTA, digelar setiap JUMAT AGUNG.

Saya merinding setiap kali mengingat pengalaman mengikuti SEMANA SANTA di Larantuka. Pengalaman religius yang sulit diucapkan. Rasanya saya dekat sekali dengan Tuhan. Lain sekali dengan sekarang, ketika saya menjadi minoritas kecil di Jawa Timur. Di Surabaya dan Sidoarjo, gereja banyak dan bagus-bagus, tapi HAMBAR karena tak punya tradisi apa-apa. Sesama umat, satu gereja, bahkan tidak saling kenal.
Saya sering menjadi 'orang asing' di gereja sendiri, di Jawa Timur.

RABU TREWA

Rangkaian perayaan Paskah di Larantuka dimulai dengan RABU TREWA. Dus, beda dengan umat Katolik di tempat lain yang memulainya pada hari KAMIS PUTIH. Perayaan berpusat di KAPELA TUAN MA (Lohayong) dan KAPELA TUAN ANA (Pohonsirih).

TUAN ANA sebutan untuk Yesus Kristus, sedangkan TUAN MA sebutan untuk Maria, ibunda Yesus dalam bahasa Nagi (bahasa Melayu Larantuka). Di kedua kapela ini dilakukan upacara MUDA TUAN: pengurus kapela membuka pintu sehingga umat diperkenankan berkunjung.

Di KAPELA TUAN MA tersimpan patung Bunda Maria setinggi dua meter, sedangkan di KAPELA TUAN ANA tersimpan sebuah peti berisikan patung Yesus yang terbujur. Tak sembarang orang boleh melihat patung ini. Hanya CONFRERIA yang bisa melihatnya. Upacara penghormatan sangat khidmat.

Umat dan peziarah wajib membuka alas kaki. Lalu, berjalan dengan lutut, tangan terlipat di dada. Nah, di depan patung dan peti, umat bersujud dan mencium bagian kaki dan sisi bawah peti TUAN ANA.

Adapun ibu-ibu (MAMA MUJI) melantunkan lagu-lagu pujian dalam bahasa Portugis atau Indonesia. Di samping kiri dan kanan TUAN MA dan TUAN ANA, petugas memasang lilin dan menjaganya tetap menyala.


KAMIS PUTIH

Umat masih diberi kesempatan untuk berziarah di kedua kapela. Umat dari berbagai kawasan di Tanah Air, bahkan mancanegara, berdatangan ke Larantuka untuk mengikuti prosesi SEMANA SANTA, esok harinya. Sejumlah biro perjalanan di Surabaya dan kota-kota besar di Jawa menyiapkan paket khusus: wisata rohani ke Larantuka.

Liturgi ekaristi berlangsung seperti misa raya di tempat lain. Ada upacara pembasuhan kaki, penakhtaan sakramen mahakudus. Nyanyian paling terkenal, apalagi kalau bukan UBI CARITAS EST VERA, DEUS IBI EST serta PANGE LINGUA GLORIOSI.



JUMAT AGUNG atau JUMAT BESAR

Hari puasa dan pantang wajib umat Katolik.
Inilah puncak devosi peninggalan para paderi Portugal abad ke-16 yang disebut SEMANA SANTA. Warga Larantuka sibuk mempersiapkan ARMIDA alias stasi dalam JALAN SALIB. Juga pagar bambu (TURO) di sisi kiri dan kanan jalan raya tempat prosesi berlangsung. Di atas turo itu dipasang lilin yang akan menyala sepanjang malam.

SEMANA SANTA merupakan DEVOSI untuk memperingati sengsara dan wafat Yesus Kristus. Ini semacam JALAN SALIB di Jawa, tapi lebih detail dan punya akar tradisi Portugis yang sangat kuat.

Sekitar pukul 13.00 umat sudah memadati pantai Kelurahan Pohon Sirih. Menunggu kedatangan iring-iringan kapal yang membawa salib dari Kapela TUAN MENINO (Yesus Kanak-kanak). TUAN MENINO disemayamkan di Kapel Kota Rowindo, pinggir Larantuka. Salib TUAN MENINO diarak melalui Selat Gonsalus antara Pulau Flores dan Pulau Adonara dengan menggunakan perahu bercadik. Kapal-kapal lainnya mengiringi dari belakang.

Setelah kotak berisi Salib TUAN MENINO diturunkan dari perahu, prosesi mulai berjalan menuju ARMIDA BALELA di Jalan San Dominggo. Barisan diawali dengan para CONFRERIA berjubah putih dengan kalung bergambar Santo Dominikus. Petugas berpakaian hitam mengikuti. TUAN MENINO dibawa dengan cara dijunjung di kepala disertai payung. Salib itu kemudian ditempatkan di ARMIDA BALELA.

Pukul 15.00, seperti ditulis ALKITAB, Yesus wafat. Umat memperingati peristiwa ini dengan mengarak patung TUAN ANA dan TUAN MA ke Gereja KATEDRAL di Postoh, tak jauh dari kantor Bupati Flores Timur. Petugas tampil dengan GENDA DO (genderang khas), disusul CONFRERIA yang membawa panji-panji, lalu salib dan lilin besar. Anak-anak pakai jubah hitam. Mereka membawa palu dan paku besar, 30 keping uang perak, mahkota duri, tongkat, bunga karang, lembing, dadu. Ini semua simbol penghinaan terhadap Yesus.

Arak-arakan ini diikuti oleh petugas liturgi serta PROMESA -- peziarah dengan nazar khusus. PROMESA adalah jemaat yang punya niat khusus membantu jalannya prosesi SEMANA SANTA agar tercapai intensinya. Mereka diseleksi ketat.

Usungan TUAN ANA dan TUAN MA diangkat oleh LAKADEMU, petugas berkostum ala Portugis, ke dalam KATEDRAL. Setelah itu upacara JUMAT AGUNG berjalan seperti biasa, sekitar pukul 15.00.

Setelah itu, diadakan doa di makam Kelurahan Postoh yang berada tak jauh dari KATEDRAL Larantuka di Postoh. Jemaat berdoa dan memasang lilin di pusara keluarganya. Sedangkan para peziarah melakukannya di depan TUGU di tengah makam. Ritual ini sebagai simbol Yesus Kristus Sang Terang bangkit bersama orang-orang beriman yang telah meninggal dunia.

Saat umat berdoa di kuburan, empat LAKADEMU melakukan JALAN KURE, yaitu mengelilingi pekuburan. Lalu, mereka kembali memasuki KATEDRAL untuk memulai prosesi merenungkan sengsara Yesus.

Prosesi utama SEMANA SANTA dimulai dari KATEDRAL, keliling kota Larantuka, lalu kembali lagi di KATEDRAL. Prosesi inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh ribuan umat dan peziarah dari berbagai daerah. Panjang rute mencapai lima kilometer.
Selama prosesi ANA MUJI CONFRERIA, penyanyi perempuan, menyayikan lagu O VOS OMNES. Wajahnya tertunduk, berpakaian serba hitam, berkerudung kain panjang hitam. Lagu ini bergaya Gregorian, sangat mengiris hati. Mirip orang menangis.

Lalu seorang wanita maju ke altar menunjukkan gulungan lukisan wajah Yesus, simbol Veronika yang mengusap wajah Yesus dalam perjalanan ke Golgota.

Perlahan-lahan prosesi keluar dari KATEDRAL. Urut-urutannya: barisan genderang perkabungan, panji CONFRERIA, anak-anak yang membawa alat-alat sengsara Yesus, biarawati, para biarawan, pendamping, LAKADEMU yang memanggul peti TUAN ANA. Kemudian para promesa, umat, dan peziarah.

Ribuan umat mengikuti prosesi sambil memegang lilin bernyala. Sementara itu, kota Larantuka menjadi lautan cahaya lilin yang memancar di sepanjang rute prosesi.

Kalau JALAN SALIB biasa dikenal 14 stasi (perhentian), upacara SEMANA SANTA alias JALAN SALIB ala Larantuka mengenal delapan armida. Adapun delapan armida (stasi) tersebut:

ARMIDA MISERICORDIAE: mengingatkan manusia akan janji kedatangan kembali Yesus Kristus.
ARMIDA TUAN MENINO: pemenuhan janji Allah terhadap manusia.
ARMIDA BALELA: meneladani Yesus yang menghibur manusia.
ARMIDA TUAN TREWA: Yesus rela berkorban demi manusia.
ARMIDA PANTE KEBIS: kesertaan Bunda Maria untuk bersatu dalam penderitaan Yesus.
ARMIDA POHON SIRIH: mengingatkan umat akan hukuman mati yang diderita Yesus.
ARMIDA KUCE: mengingatkan kematian Yesus di kayu salib.
ARMIDA TUAN ANA: Yesus diturunkan dari kayu salib lalu dimakamkan.



Rombongan peziarah asal Surabaya usai mengikuti prosesi Samana Santa di Larantuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar