Senin, 31 Agustus 2009

hening

...ada perjamuan jiwa-jiwa beku,
atas restu malam berembun.
Karena lelah meniti ras,
luruh atas dipenat atas pertemuan tak berjanji
kita lalu melebur bersama duka 
lelap disepenggal cerita yang hanya hampa
andai saja kemarin ada janji
karena kita telah jauh melewati musim
hanya saja kita terlanjur mendustai waktu
sampai pada langit tinggal sejengkal
akupun telah tahu kamu pernah menangis terkeluai
kalau jantung diledak pecah terguncang,
sisakan kidung duka tengah malam
satu masa aku akan datang lagi menyapa pantai_mu
tersenyum bersama gelombang ruang terhempas 
dan menikmati malam-malam pikuk di kotamu
hapusi air mata mu yang tak sempat leleh 
atau aku pergi membawa tawa_mu
ku_genggam bersam kenangandulu,
sembari berharap ta'kan digugurkan musim
semoga disudut senja tak kudengar isak mu
karena aku selalu rindu pada perih senyum_mu
tempat para dahagadatang menantang
diatas pasir dan getir.
Apakah kita segaris kenangan?
haruskah kunaikkan pasrah bergita janji,
karena hasratku lelah ditawan gelap
bersua jugakah lirih sembhayang-sembhayangku,
diredup cahaya berujung keluh
Aku disana menggenggam niat, menunggu merdu suaramu memanggilku
biarkan dirimu dipahami karena ini tak bisa dipahami dengan apapun
bahkan dengan harapan sekalipun



Larantuak, tak bertanggal
 

ketika kekasihku pergi








ketika harapku pergi
dan apa yang ingin ku raih hilang dalam bayang
aku terpekur,
di sudut hatiku yang sepi...
aku selalu sendiri 
dan akan menyendiri senantiasa
aku adalah misteri dalam bayang-bayang hariku
waktu ku jalani sendiri
hidup dalam kesendirian 
dan jika aku mati pun dalam sepi sendiriku
jika kau cinta padaku kembalilah 
aku menunggumu di gapura cinta ku
menunggumu dalam terang nya bara kasih ku
kasih.......
aku menunggumu 
di sini, disudut hati dan jiwaku yang lapang